Kamis, 16 April 2015

Menanti Jodoh Ibarat Menanti Berbuka Puasa



by @rizkachab
(Bachelor Student MartinLutherUniversitat Halle Germany)

 
Menanti Jodoh itu bagaikan menunggu waktu berbuka puasa. Masa baligh adalah masa ketika mengawali hari untuk berpuasa. Semua terasa indah pada awalnya, semua berjalan seakan tak ada beban yang menyertainya. Cobaan demi cobaan pun dapat dengan mudah dilalui, karna belum terlalu banyak yang difikirkan, belum banyak pula godaan duniawi yang ditemukan, baik itu harta, tahta, maupun pria. Dan alasan lain yang muncul adalah karena masa-masa ini seringkali disebut masa “labil“, yaitu suatu masa disaat seseorang belum menemukan jati dirinya dan belum menemukan apa tujuan hidupnya. Semua serba enteng, semua serba hepi. Yaaa mungkin karena waktu masi “pagi“. Jadi rasa laparpun belum begitu menghantui.

Berbicara tentang puasa, Islam telah mengajarkan umatnya untuk bersahur terlebih dahulu.


“Makanan sahur adalah makanan yang barakah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun seorang dari kalian hanya sahur dengan meneguk air, karena sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur”. (HR. Ahmad)

Setiap orang pun memiliki persiapan sahur yang berbeda-beda. Ada yang memaksimalkan waktu sahurnya, ada yang sahur seadanya, bahkan ada yang tidak mempersiapkan apa-apa disaat sahur. Mungkin lupa, kesiangan, atau bisa jadi terlena dengan waktu tidurnya sehingga melalaikan waktu sahur tersebut.

Semakin baik niat dan persiapan sahurnya inshaaAllah semakin mantap menjalani puasa di siang harinya. Begitupun dalam menanti jodoh. Semua butuh persiapan. Bahkan sejak usia dini. Orangtua berperan sangat penting dalam proses “sahur“ ini. Karena pada masa ini seharusnya orangtua yang menjadi sosok utama, bukan lingkungan. Orangtualah yang memiliki hak sepenuhnya terhadap nilai-nilai kehidupan pada anak. Prinsip aqidah dan akhlak adalah point paling mendasar pada masa "sahur" setiap insan.


Ketika waktu berpuasa tiba, maka memanfaatkan waktu sebaik mungkin menjadi hal yang utama. karena terdapat banyak pahala dan keberkahan disana. Niat dan tekad pun harus semakin kuat, karena semakin siang akan semakin besar tantangan. Semakin bertambah usia akan semakin banyak tanggung jawab dan cobaan.


Kembali ke masalah jodoh. Menanti jodoh bagaikan menanti waktu berbuka puasa. Persiapannya harus dilakukan sesegera mungkin. Allah swt berfirman:


“Perempuan-perempuan yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk perempuan yang tidak baik pula. Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula...“ (Qs. An Nur:26)

Inilah sebait surat cinta dari Allah swt. janji Allah swt. Tuhan seluruh alam. Tuhan aku, kamu, dia, dan mereka. Allah swt yang menguasai segala isi hati, yang merajai langit dan bumi. Pada-Nyalah setiap takdir telah ditentukan dan kepada-Nya kita semua dikembalikan.


Janji Allah swt tersebut menguatkan motivasi bahwa untuk mendapatkan seseorang yang baik, maka harus berusaha untuk menjadi pribadi yang baik pula. Karena jodoh adalah cerminan diri ini, maka hijrah adalah solusi untuk memperbaiki diri. Belum ada kata terlambat, karna jasad belum sampai ke liang lahat.

Jagalah diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Karena ia akan mengurangi kenikmatan saat berbuka dan menghilangkan esensi ibadah puasa. Begitupula dengan hati, jagalah ia sebaik mungkin dari hal-hal yang tidak diinginkan Sang Pencipta. Mendekati zina adalah satu diantaranya.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’: 32)
Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka tidak ada cara lain selain terus memperbaiki diri dan menjaga hati. Inilah masa penantian. Saling memperbaiki diri sampai Allah mempersatukan.

Menanti Jodoh itu bagaikan menunggu waktu berbuka puasa. 


Akhir-akhir ini tak jarang kita temukan orang-orang yang menanti berbuka puasa justru dengan hal hal yang dilarang Penciptanya. Penantian jodohpun diawali dengan hal-hal yang Allah tidak suka. Mulai dari hubungan tanpa status (HTS-an), Pacaran Long Distance (LDR), sampe Pacaran Islami?

HTS adalah hubungan ketika lelaki dan perempuan yang bukan mahrom menjalani hubungan yang sangat akrab dan intens. Mereka terkadang akrab seperti kakak-adek yang ketemu gede. Boro-boro status suami istri. Status pacaran aja bukan. Ini sungguh kasian. Bukan penantian seperti ini yang seharusnya dilakukan.


Nah ada lagi pacaran LDR. Suatu hubungan lelaki dan perempuan yang bukan mahrom dengan status teman akrab “banget” alias pacaran namun dilakukan didaerah yang terpisah. Misalnya sang lelaki di kutub utara dan sang perempuan di kutub selatan. Lalu mereka menganggap hubungan ini adalah sebuah penantian yang wajar. “Gakpapa dong, kita kan cuma chatting-an atau telfonan aja, ketemu nggak, pegangan juga kita nggak. Mata gak zina, sentuhan juga nggak! Darimana zinanya coba???” eiits masi ada hati nih. Walau mata tak memandang, tangan tak pegangan, tapi hati tetap jadi sasaran. Waspadalah.. waspadalah..


Yang lucu juga ada yang judulnya pacaran islami. Ini parah lucu banget. Jadi ketika seorang lelaki dan perempuan yang belum menjadi mahrom menjalin sebuah hubungan yang katanya sebagai persiapan menuju kejenjang pernikahan. “Emang berapa lama persiapannya?”, “lima tahun”. Wooow!!! Jadi selama masa persiapan ini kedua belah pihak sudah sangat yakin dan mantap bahwa mereka saling berjodoh. Jadi mereka saling menunggu. Walau chat ataupun telfonan sangat jarang dilakukan, namun hati sudah diisi oleh seseorang yang belum berhak mendapatkan.


Selama ijab qabul belum diucap, jangan segampang itu meletakkan hati pada seseorang ataupun menempatkan seseorang dihati. Karena berisiko terlalu tinggi. Untuk apa kita memiliki tujuan yang baik dan mulia seperti menikah misalnya, namun diawali dengan hal-hal yang Allah tidak suka pada awalnya. Bagaimana kita ingin mendapatkan keridho-an Allah swt pada akhirnya.


Menjaga hati memang bukanlah hal yang mudah. Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah swt pada titik-titik kelemahan kita. Maka jadikanlah Qur’an dan hadist sebagai pegangan. Carilah lingkungan yang mendekatkan kita pada-Nya. Karena rasa persaudaraanlah yang kelak kan memberikan kekuatan sampai kita dinyatakan lulus dari ujian.
'

The last but not least. Menanti Jodoh itu bagaikan menunggu waktu berbuka puasa. Apabila telah kau ketahui kapan waktu berbuka puasa tiba, maka persiapkan dan segerakanlah. Dan apabilah telah kau temukan jodoh dalam istikharah, maka mantapkan dan menikahlah. Sebagaimana Rasulullah mengajarkan untuk menyegerakan berbuka puasa, Rasulullah pun mengajarkan untuk menyegerakan menikah. Karena menyegerakan tidaklah sama dengan tergesa-gesa. Persiapkan dan segerakan, kepada Allah swt semua diniatkan.
melihat kakek menghisap cerutu cerutu dihisap beraroma melati bila perasaan gundah tak menentu adukan semua pada Pemilik hati

Guten Morgen Indonesien und Guten Abend Deutschland!
00:04 CET
liebe Grüße,

Rizka Rahmayani (@rizkachab on twitter

*http://rahmayanirizka.blogspot.de/2015/03/menanti-jodoh-dan-berbuka-puasa.html

Sabtu, 27 April 2013

Berita duka dari Ustad Jefri albuchori

Pagi ini di kagetkan dengan berita duka, yaitu meninggalnya ustadz Jefri al-Buchori.  Innalillahi wa inna ilahi roji’un.  Semoga dosa-dosa beliau di ampuni oleh Allah swt. Dan di tempatkan di surga-Nya.

Selanjutnya berita meninggalnya Uje (panggilan ustad Jefri)  menjadi topik hangat selama 2 hari ini. Di facebook, twitter, tv, koran, dll.  Di kantorku pun kami mendiskusikan tentang kematian, bahkan dalam pengajian juga. Banyak orang yang bersedih dengan kepergian Uje,  Ustadz muda yang dakwahnya di terima oleh banyak kalangan. Namun, jika memang ‘sudah waktunya’ setiap manusia tidak akan bisa memajukan atau memundurkannya.

Lalu, Bagaimana dengan aku?

Memangnya bekal apa yang sudah aq punyai untuk menghadap Allah?

Apakah aku sudah melakukan usaha semaksimalnya untuk Allah?


Artinya:
Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan sebaik-baik amalku pada ujung akhirnya, serta sebaik-baik hariku pada saat aku menemui-Mu.

Minggu, 27 Januari 2013

Nyanyian Hujan

Di Bulan Januari ini hampir setiap sore selalu hujan. Pulang kerja jadi sering kehujanan. Alhasil Flu ndak selesai-selesai, tapi tetap bersyukur masih di beri kekuatan buat kerja (baca: Alhamdulillah).  Bagi sebagian orang Hujan bikin esmosi karena jemuran ga’ kering-kering. Baju jadi belepotan, motor jadi kotor terus. Sebagian orang lagi berduka karena rumah mereka kebanjiran. Sawah-sawah mereka tenggelam. Sebagian lagi bergembira, mereka adalah para pedagang jas hujan dan anak-anak kecil. 

Apa yang kamu rasakan saat hujan?


Kalau aku..


Aku merasa bahagia saat hujan. Ketika rintik hujan menyentuh tanah ada suasana dan rasa yang berbeda. Bukan mellow sambil nyanyiin lagunya utopia yang..

Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri

Oh..Bukan, bukan perasaan mellow. Tapi perasaan yang lebih luar biasa lagi. Coba rasakan ketika rinai hujan menyentuh tanah tercium bau yang khas. Ketika rinai itu menyentuh kolam atau sungai terdengar suara “Tes..tes..tes..“ . Ketika rinai itu menyentuh atap terdengar suara "tik..tik..tik.." Kemudian hujan pun menjadi semakin deras “ssshhhhhhshhhh..ssshhhsshh..”. Diikuti dengan sejuknya udara dan angin yang lembut menyentuh kulit. Dan ditambah dengan suara katak “ Kwoork...Kwoork...”. Seketika timbul suasana yang dapat menghanyutkan siapapun. Nyanyian hujan yang indah ini, jika kau merasakannya juga, itulah rasa damai.

Pernah mendengarkan audio dari digital prayer? Audio dari buku Quantum ikhlas ini merupakan audio untuk terapi ikhlas. Audio ini menggunakan suara hujan, suara air menetes, ada suara katak juga, dll. Setelah mendengarkan audio dengan durasi hampir setengah jam ini hatiku terasa tenang dan damai sama dengan ketika mendengarkan nyanyian hujan. Hati terasa ikhlas dan menyerahkan semuanya padaNya. 


وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا
“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi (mubaarak)…” [QS. Qaaf : 9].

Hujan memberikan banyak manfaat tidak hanya airnya tapi juga nyanyiannya. Efek dari mendengarkan nyanyian hujan ini beban pikiran serasa lepas. Penat dan stress karena kerja lepas satu persatu berganti dengan perasaan ikhlas dan menyerahkan semuanya kepada yang Maha Segalanya (baca: Allah). Coba sekali-kali dengarkanlah nyanyian hujan , jika kau merasakan efeknya pujilah Allah (baca: Alhamdulillah).  

Jumat, 18 Januari 2013

Bank Konvensional VS Bank Syariah



2 orang sahabat sedang bercakap-cakap di sebuah Warteg di Surabaya. Badrun dan Hasan nama kedua sahabat itu. Hasan sedang curhat kepada Badrun tentang permasalahan keuangan yang sedang di hadapinya. Ia membutuhkan dana untuk memperluas usahanya. Sebagai sahabat yang baik Badrun memberikan saran kepada Hasan untuk meminjam uang di Bank Syariah.

H: Syariah... sama aja Bank itu. Namanya aja Syariah
B: Kalau di Bank Syariah Insyaallah uang kita Halal dan lebih barokah karena tidak ada bunga.
H: Sama saja Cuma di bank Sariah namanya bagi  hasil. Sama-sama mahal juga biayanya
B: Namanya juga Bank Drun.. dia lembaga usaha, bukan lembaga sosial. Yah wajar kalau dia cari keuntungan.  Mana ada Bank ngasih pinjaman cuma-cuma, mereka kan punya pegawai harus  menggaji pegawainya, untuk menjalankan operasional perusahaan, juga mengembangkan usahanya. Kalau mereka tidak mengambil keuntungan dapat dana darimana?
H: karena itu aku bilang sama saja semua Bank
B: Beda.. Syariah dan bukan Syariah
H: Iya beda, beda namanya aja
B: Di Bank Syariah insyaallah uang kita Halal karena prosedur di situ mengikuti aturan agama kita Islam. Tidak ada Riba di Bank Syariah, sebaliknya ada akad dan bagi hasil yang disepakati bersama. Riba itu haram hukumnya.
H: ...
B:  Bir, Miras, Wine hukumnya apa kalau kita meminum itu?
H: Jelas tidak boleh, Haram
B: Kalau makan daging babi?
H: Sama, Haram
B: Kalau berzina?
H: Wah..jelas Haram itu
B: Riba juga HARAM... jadi sama-sama DILARANG. Sama-sama DIBENCI Allah.  
H: benar-benar tidak boleh  ya?
B: Namanya Haram itu sama semua sama-sama dilarang, makan babi haram, minum bir haram, berzina haram, begitu juga memakan uang riba hukumnya haram.
H: Trus gimana dong, tabunganku ada di bank konvensional?
B: Segera pindah Bank, yang sudah yah sudah. Sekarang sudah punya ilmunya segera di amalkan.
H: Tapi Bank syariah itu pelayanannya kurang memuaskan di banding bank-bank konvensional. Mereka kan juga belum banyak jaringannya. Nanti kalau butuh uang malah susah.
B: Justru karena itulah kita mestinya mendukung bank syariah dengan menabung di sana. Bank Syariah saat ini adalah Bank yang sedang berkembang. Perkembangan Bank Syariah saat ini paling pesat di banding bank konvensional.
H: Kalau  Bank Syariah yang bagus yang mana Drun?
B: Semua Bank Syariah bagus, tinggal dipilih mana yang lebih cocok buat kamu
H: Emm... ya deh nanti,  pikir-pikir dulu.
B: Melakukan kebaikan jangan kelamaan mikirnya

Inspired from Talk Show Bincang Ekonomi Syariah di Radio Sham Fm oleh  Prof. Dr. H. Suherman Rosyidi, M.E
Sebagai tambahan berikut ini Beberapa Dalil mengenai Riba:

Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al-Baqarah: 278-279)

Dari Hanzhalah Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Satu dirham yang didapatkan dari transaksi riba lantas dimanfaatkan oleh seseorang dalam keadaan dia mengetahui bahwa itu berasal dari riba dosanya lebih ngeri dari pada berzina sebanyak tiga puluh enam kali” [HR Ahmad no 22008]

 “Tidak boleh ada dua akad dalam satu akad jual beli. Sesungguhnya Rasulullah n melaknat pemakan riba, yang memberi makan orang lain dengan riba, dua saksinya, dan pencatatnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 1053, Al-Bazzar dalam Musnad-nya no. 2016 dan Al-Marwazi dalam As-Sunnah (159-161) dengan sanad hasan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...